IRAK–Serangan bom kembali menghantam satu gereja di Mosul, Irak Utara, menewaskan satu orang yang sedang melintasi jalan di depan gereja tersebut, dan mencederai enam orang lain, kata polisi dan saksi mata, Kamis (24/25).
Serangan bom terhadap gereja serupa telah terjadi sebanyak lima kali dalam enam bulan terakhir, kata polisi. “Pada Kamis sekitar pukul 11.00 waktu setempat gereja Ortodoks Santa Thomas itu dihantam serangan bom, mengakibatkan kerusakan pada gedung gereja tersebut,” kata Hamis Paulos, saksi mata.
Serangan bom itu terjadi saat umat Kristen menyongsong perayaan Natal. “Seseorang yang sedang melewati jalan di depan gereja tersebut tewas, dan enam orang lagi menderita luka-luka,” kata seorang perwira kepolisian.
Sejak Juli lalu, larangan bagi kendaraan bermotor melintas pada malam hari di Mosul diberlakukan. Mosul berpenduduk beragam etnis dan permukiman-permukiman Kristen. Larangan tersebut menyusul serangkaian serangan bom yang ditujukan terhadap gereja-gereja di Mosul dan Baghdad. Larangan keluar rumah itu kembali diberlakukan di sebagian besar daerah-daerah pinggiran kota itu, kata polisi.
Bom-bom meledak dekat lima gereja Kristen di Baghdad, Ahad, tampaknya serangan yang terkoordinasi yang menewaskan empat orang dan mencederai lebih dari 30 orang, kata polisi Irak.
Sebelumnya, sebuah bom mobil meledak dekat satu gereja di Baghdad Timur menewaskan empat orang dan mencederai 21 orang lain. Warga Kristen Irak, yang berjumlah sekitar 750.000 orang adalah minoritas kecil di negara yang berpenduduk 28 juta jiwa, yang sebagian besar beragama Islam.
Warga Kristen secara sporadis menjadi sasaran-sasaran serangan, sebagian besar di Baghdad dan Mosul sejak agresi militer Amerika Serikat pada 2003, yang menyebabkan banyak dari mereka lari ke luar negeri.
Sekitar 2.000 keluarga (sekitar 12.000 orang) meninggalkan Mosul setelah satu kampanye ancaman dan serangan terhadap warga Kristen di sana Oktober tahun lalu Juru bicara keamanan Baghdad Qassim al Moussawi mengatakan, walaupun tidak ada jam malam di Baghdad, pasukan keamanan Irak meningkatkan tindakan untuk melindungi tempat-tempat ibadah Kristen di ibu kota itu, yang sering jadi sasaran kelompok garis keras. Kelompok itu mengharapkan terjadi ketegangan sektarian.
“Sekarang kami melakukan tindakan-tindakan antisipasi untuk mengerahkan pasukan keamanan ke sasaran-sasaran penting seperti gereja dan sinagog (tempat ibadah kaum Yahudi),” kata Moussawi.
Aksi kekerasan sektarian yang nyaris memecah belah Irak tahun 2006 dan 2007 mereda, namun kelompok garis keras masih melakukan serangan-serangan. (ant/rpo)
