PORT-AU-PRINCE, HAITI – Gempa yang mengguncang dan mengoyak Haiti, Selasa (12/1) lalu, dikategorikan sebagai salah satu dari 10 gempa paling dahsyat dan mematikan yang pernah tercatat dalam sejarah selain itu merupakan gempa terkuat di Haiti dalam lebih dari 200 tahun.
Gempa yang merobohkan istana presiden serta rumah-rumah perbukitan, dan membuat negara yang berpenduduk sembilan juta orang itu meminta bantuan internasional.
Perkiraan jumlah korban tewas dalam gempa bisa mencapai 200.000 orang meski pemerintah Haiti mengatakan, mereka tidak akan pernah bisa tahu berapa banyak jumlah korban tewas yang sesungguhnya. Foto tentang kerusakan dan korban memberi gambaran tentang betapa dahsyatnya dampak gempa tersebut di negara miskin yang sering dilanda bencana dan konflik politik itu.
Palang Merah Internasional mengatakan sebelumnya, jumlah orang yang terluka atau kehilangan tempat tinggal sekitar tiga juta Di ibukota Haiti yang hancur akibat gempa tersebut, mayat bisa dilihat di bawah puing-puing, bergeletakan di sisi jalan, atau menumpuk di kendaraan-kendaraan.
Gempa itu berkekuatan 7,4 skala Richter dan pusatnya hanya 16 kolometer dari Port-au-Prince, ibukota Haiti. Sekitar empat juta orang tinggal di kota itu dan daerah sekitarnya, dan banyak penduduk tidur di luar rumah di tanah, jauh dari dinding-dinding bangunan yang melemah, sementara gempa-gempa susulan yang berkekuatan 5,9 mengguncang kota itu sepanjang Selasa malam hingga Rabu.
