Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah menggelar simulasi bencana alam banjir dan tanah longsor, dengan melibatkan beberapa instansi terkait di Lapangan Madukoro, Banjir Kanal Barat Semarang, Sabtu.
Simulasi yang melibatkan sekitar 650 orang dari beberapa instansi, di antaranya Dinas Sosial Jateng, Dinas Cipta Karya Jateng, Dinas Pemadam Kebakaran Kota Semarang, aparat TNI dan Polri, serta masyarakat tersebut dibuat semirip mungkin dengan suasana bencana.
Beberapa tenda yang terdiri atas tenda pengungsian, tenda dapur umum, tempat MCK darurat, dan tenda pengobatan yang dijaga petugas dari Palang Merah Indonesia (PMI) juga disiapkan di lokasi untuk melengkapi proses simulasi.
“Kami melibatkan masyarakat sekitar, antara lain warga Kelurahan Krobokan dan Tanah Mas untuk berperan sebagai korban bencana, terlebih lagi lokasi tersebut dekat dengan Sungai Banjir Kanal sehingga rawan banjir,” kata Kepala BPBD Jateng, Priantono Jarot Nugroho usai simulasi.
Menurut dia, pelaksanaan simulasi tersebut sangat penting untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiagaan masyarakat dan instansi terkait saat menghadapi bencana yang sesungguhnya, terutama berkaitan dengan koordinasi antar instansi, evakuasi dan penyaluran bantuan.
Berdasarkan pengalaman penanganan dan penanggulangan bencana di beberapa daerah, misalnya gempa bumi di Jawa Barat, koordinasi antar instansi terlihat sangat lemah, sehingga mengakibatkan penanganan terhadap para korban bencana menjadi terlambat.
“Kepala daerah, baik tingkat provinsi atau kota dapat langsung menunjuk Kepala BPBD untuk bertindak sebagai komandan penanganan darurat, agar penanganan terhadap para korban bencana tidak terlambat, karena biasanya menunggu instruksi dari pusat terlebih dulu,” katanya.
Selain itu, kata dia, dalam penanganan dan penanggulangan bencana alam yang terpenting adalah memantapkan koordinasi dengan seluruh pihak, termasuk kalangan perguruan tinggi dan pihak-pihak lain yang peduli terhadap terjadinya bencana alam, di antaranya lewat simulasi semacam ini.
Ditanya tentang dana penanggulangan bencana alam, ia mengatakan, dana yang diajukan untuk kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana alam untuk tahun 2009 sebesar Rp8 miliar, namun pihaknya berharap dana tak terduga juga dapat digunakan apabila sangat dibutuhkan.
Dalam simulasi yang berlangsung antara pukul 08:00-11:00 WIB tersebut juga dikerahkan beberapa alat berat, di antaranya eskavator untuk membantu pencarian para korban dan helikopter serbu Penerbad untuk penyelamatan korban dan pengiriman bantuan logistik.
“Simulasi kali ini memang dikhususkan untuk penanganan korban bencana banjir dan tanah longsor, namun nantinya kami juga akan menggelar simulasi penanganan bencana gempa bumi dan gunung berapi, terutama untuk warga sekitar Gunung Slamet dan Gunung Merapi,” kata Priantono. (Antara)
