Beginilah kalau negara tidak punya industri laptop ujung-ujungnya mendatangkan laptop dan tidak pelak pilihan jatuh pada laptop buatan China yang murah, akhirnya komputer jinjing dari China merajalela di negeri ini. Data yang ada impor laptop sampai November 2009 lalu mengalami melonjak 38 persen dibandingkan tahun 2008. Angka impor laptop hingga bulan November 2009 total 461 juta dollar AS, padahal pada tahun sebelumnya baru 334 juta dollar AS.
Kebutuhan pangguna komputer jinjing melesat naik 30 hingga 40 persen pertahunnya, tak aneh jika kebutuhan terus meningkat keadaan ini akan dinikmati industri laptop China. demikian penjelasan Djunaedi, Wakil Ketua Umum Bidang Produksi Dalam Negeri Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (Apkomindo).
Memang industri di dalam negeri tidak berdaya untuk mengadang laju impor tersebut karena ketiadaan industri yang memproduksi laptop yang mampu berdiri dan berkembang di dalam negeri. Alasannya klasik, tidak adanya industri pendukung bagi industri laptop, seperti industri semikonduktor, chip, mikroprosesor, dan integrated circuit (IC). padahal di Indonesia sempat ada industri tekhnologi tinggi ini namun hengkang ke Malaysia karena tidak komitmen pemerintah tentang kebijakan soal tenaga kerja.
Jika industri laptop di dalam negeri bisa berkembang maka harus ada sebuah komitmen bersama termasuk dari kepala negara untuk menyusun strategi pembangunan industri semikonduktor di dalam negeri.
