SEMARANG – Anggota Panitia Khusus Rencana Tata Ruang dan Rencana Wilayah (RT/RW), Muhammad Haris mengatakan, akan menolak rencana pengembangan jalur tol yang menghubungkan Solo -Yogyakarta sepanjang 65 Km yang kini dalam pembahasan Pansus Raperda RTRW DPRD Jateng.
“Alasan penolakan ini karena rencana pembangunan jalur tol ini memberikan dampak yang tidak terlalu menguntungkan bagi masyarakat,” jelasnya, Selasa (16/03).
Ia merinci, dari sisi lingkungan, rencana pembangunan rol ini berpotensi menghilangkan keberadaa 80 sumber mata air yang ada di lereng Pegunungan Merapi.
“Di samping itu, rencana ini juga berpotensi merusak situs-situs purbakala yang berada di daerah Prambanan dan Kalasan,” ujarnya.
Haris menambahkan, rencana pembangunan ini juga akan mengancam sumber kehidupan masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari berdagang.
“Banyak pedagang makanan dari kawasan tersebut yang akan kehilangan mata pencahariannya jika tol ini jadi dibangun,” jelasnya.
Ia menambahkan, kawasan Klaten hingga Prambanan merupakan lahan pertanian produktif. Pembangunan tol ini berpotensi membabat lahan pertanian yang ada.
Selain menolak rencana pembangunan jalur tol Solo-Yogyakarta, Haris juga menolak rencana pembangunan jalur Semarang-Demak dan Yogyakarta-Bawen.
Menurutnya, pembangunan jalur Semarang-Demak sudah tidak diperlukan lagi. Sebab, sudah ada jalur arteri yang menghubungkan Semarang-Demak.
“Jalannya sudah cukup bagus pula. Jadi rencana ini mubazir kalau jadi dilaksanakan. Karena akan menghilangkan lahan pertanian juga. Kalau jalur Trans Jawa masih bisa diterima,” tandasnya. [Advianto]
