Ciptakan Atap Ramah Lingkungan
Fungsi atap sebuah rumah sekarang ini mengalami pergeseran, bukan lagi aspek penunjang estetika bentuk rumah, atau cermin karakter penghuni, apalagi usaha mempertahankan karakter kedaerahan (misal atap bentuk joglo , limasan,atap tajuk minang) tetapi kini lebih kental mempertimbangkan aspek ‘ effesiensi dan minimalis’. Padahal telah terbukti dan teruji bahwa atap tradisional (bahan, bentuk dan konstruksinya) sangat merespond keganasan alam. Kalau kita simak, gempa yang merobohkan banyak bangunan, salah satu aspek kausalitasnya karena pilihan dan bentuk atap bangunan. Untuk meminimalisir kerusakan akibat gempa, pilih bentuk atap yang ramah terhadap lingkungan. Berikut kiat menciptakan atap yang ramah terhadap lingkungan :
- Aspek teknis konstruksi : Fungsi melindungi bangunan dibawahnya dari aspek panas dan curah hujan, seyogyanya bentuk atap lebih lebar dari bentuk bangunan dibawahnya, tetapi prinsip tersebut tidaklah selalu benar karena bentuk besar itu lebih berat. Yang harus diterapkan pada sebuah atap. atap besar dan ringan dan jangan bentuk atap justru menambah beban bangunan dibawahnya.
- Pilihan material yang natural (tanah liat untuk sebuah genteng, ijuk/papan ubtuk atap sirat) sebenarnya lebih mencerminkan keramahan terhadap lingkungan dibanding material ‘betonan’, dilihat dari aspek serapan panas yang baik untuk daerah panas.
- Aspek pemeliharaan : Terkadang kita lupa, bahwa atap pun harus mudah pemeliharaannya, seperti kemudahan pembersihan, pembetulan hingga penggantian material genteng yang aus/rusak/pecah/bocor harus dapat dilakukan dengan cepat mudah dan effisien tanpa harus membongkar keseluruhan dan mendatangkan tenaga ahli. Contoh kasus, bentuk atap dengan pilihan bahan yang tidak tepat pernah terjadi, hanya karenanharus mengganti 2 lembar sirap maka biaya yang dibutuhkan mencapai 7 juta rupiah, karena andang / konstruksi maintenancenya sulit dibuat.
- Aspek dampak terhadap lingkungan : Untuk daerah panas (seperti kota semarang) hindari pemakaian atap yang justru menimbulkan panas pada rumah itu sendiri dan lingkungannya, karena pemilihan bahan berlogam akan meningkatkan suhu lingkungannya pada siang hari. Kebisingan karena pilihan bahan juga menjadi aspek pertimbangan khusus untuk atap rumah tinggal, misalnya bunyi berisik pada saat musim hujan.
Semoga dengan kejadian gempa, kita semakin bijak dalam memilih bentuk dan bahan penutup atap rumah kita. (DR.Ir. Eddy Prianto,CES,DEA, 2010)
Berita Terkait
- Carport Ramah Lingkungan
- Pagar Rumah Penyaring Polusi
- Hadirkan Waterwall di Rumah Kita
- Disegel Tanpa Memiliki IMB
- PBB Lawangsewu tahun 2008 Rp.203 juta